
pengguratsemu.
Ia menjadi penggurat semu, di lembar kenangan yang tak pernah usai.
pengguratsemu.
001. Akun ini semata didasarkan untuk keperluan bermain peran (roleplay) karakter buatan penulis dan tak ada sangkut pautnya dengan storyline game klaim wajah yang dipakai, 'Honkai: Star Rail' dari Hoyoverse.002. Beberapa bracket yang akan digunakan:
“.....” or ..... : In Character
( ..... ) : melakukan kegiatan
ANAK_MAGANG.📝ㅤ : OOC dan penulis berbicara003. Beberapa tweet atau plot yang akan dibuat akan mengandung unsur negativity thought, diharapkan siapapun dapat mengerti apabila ada beberapa tweet yang kurang mengenakkan bila dilihat (tapi akan tetap memakai CW // TW, bisa memakai bahasa Indonesia ataupun Inggris)
004. Jangan sungkan untuk menasehati penulis jika ada kesalahan atau hal-hal yang membuat kalian tak nyaman selama menulis plot bersama atau hal lain. Saya sebagai penulis Raras takkan ragu untuk memperbaiki dan meminta maaf langsung secara pribadi.005. Jika ada yang ingin mengajukan relasi atau menulis plot, silakan DM saya. DM saya selalu terbuka untuk kalian. Selamat berinteraksi dengan Raras!
pengguratsemu.

PERKENALAN DASAR.
nama lengkap: Rarasati Ayu Ningrum
panggilan: Raras
jenis kelamin: Perempuan
tempat, tanggal lahir: Surabaya, 12 Februari 2001
zodiak: Aquarius
okupansi: Penulis lepasan dan editor di suatu penerbitan majalahPENAMPILAN.
mata: Ungu cerah (lilac bright)
rambut: Panjang sebahu berwarna lavender, dikuncir dua menurun
tinggi badan: 167 cm
berat badan: 55 kg
golongan darah: B
MBTI: INFP
enneagram: 4w5
love language: Words of Affirmation dan Quality TimeTAMBAHAN.
suka: Bunga melati, buku fiksi, aksara Jawa, instrumen lembut, dan perpustakaan
tidak suka: Keramaian, ditekan, dan dipaksa bicara saat sedang diam
hobi: Membaca, menulis, fotografi, dan membuat scrapbook
seksualitas: Bisexsual
klaim wajah: Castorice dari Honkai: Star Rail
BIO.
Rarasati Ayu Ningrum, seorang wanita berusia 24 tahun yang kini berprofesi sebagai penulis lepas dan editor di suatu penerbitan majalah terkenal. Di balik sorot matanya yang lembut, ia menyimpan rindu, luka, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat diucapkan. Ia lebih sering memendam diri dengan buku dan keheningan untuk menyimpan energi ambisinya.Sejak kecil, Raras tumbuh berdampingan dengan adik kembarannya, Riris Ayu Ningrum, bagaikan bayangan dan cahaya. Tapi, di saat Riris berpulang karena leukemia di usia 16 tahun, dunia Raras pun ikut runtuh. Setengah dari dirinya terasa ikut terkubur bersama sosok yang selama ini menjadi cerminnya.Orang tua angkatnya tak pernah memaksanya untuk berubah, namun sang ayah—seorang konsultan pendidikan—diam-diam menyimpan harapan agar Raras dapat mengikuti rekam jejaknya. Raras ingin membahagiakan beliau dengan caranya sendiri, tapi harus dimulai dari manakah?Sejak kepergian Riris, perhatian pun terpusat padanya. Ia kadang diminta mengenakan baju kesukaan Riris atau mengikuti kegiatan yang dulu dibuat untuk Riris. Raras mulai bertanya pada dirinya sendiri, "Kalau semua orang melihatku sebagai bayang-bayangnya... jadi siapa aku sebenarnya?"
pengguratsemu.

latar belakangnya.
"Kenapa kamu terus diem aja, Ras?"Suara Riris waktu itu masih terekam jelas di ingatannya. Lembut, namun juga getir. Malam itu hawanya dingin, tapi lebih dingin lagi di hati Raras yang tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya duduk di ujung ranjang rumah sakit, menggenggam tangan adik kembarannya yang semakin lemah. Adanya selang infus dan alat bantu napas menjadi pengingat kalau waktu Riris tinggal menghitung jari.Riris masih sempat tertawa pelan padanya, "Kamu tuh... harusnya ikut lomba puisi. Biar orang tahu kamu tuh banyak ngomong aslinya, gak cuma diem terus kayak gak ada harapan."Raras hanya bisa terdiam saja. Kali ini bukan karena tak tahu harus bilang apa, tapi karena takut jika isak tangisnya pecah. Dan benar saja, malam itu adalah terakhir kalinya Riris berbicara padanya.Beberapa minggu setelahnya, kondisi rumah jadi lebih sunyi. Baju-baju Riris masih tergantung di lemari bersama. Buku hariannya juga masih ada di meja belajar. Tapi sosok fisiknya sendiri... telah tiada.Lalu suatu malam, saat sedang merapikan lemari buku milik ayahnya, ia menemukan selembar puisi yang tertulis rapi dengan tulisan tangan Riris. Di bawahnya, ada catatan kecil: "Untuk Raras. Jangan jadi aku, jadi dirimu sendiri aja."Tangisnya pecah saat itu juga. Ia segera nyalakan laptop untuk menulis naskah cerpen pertamanya. Bukan sebagai bayangan Riris, tapi sebagai Rarasati Ayu Ningrum—yang masih mencari jati dirinya sendiri, walau jalannya diremukkan oleh kenangan.fakta uniknya.
- Makanan dan minuman yang disukainya ada jenang abang, jajan kembang goyang, dan teh. Sedangkan yang tidak disukainya ada olahan daging kambing, petis yang menyengat, serta makanan yang terlalu pedas dan berminyak.
- Mempunyai saudari kembar identik bernama Riris, yang meninggal karena leukemia saat usia mereka 16 tahun.
- Masih menyimpan buku diary milik Riris yang sering digunakan untuk membuat scrapbook.
- Suka mendengarkan ASMR sebelum tidur, supaya bisa tidur nyenyak (katanya gitu).
- Tidak pernah suka ber-selfie, tapi masih mau untuk berfoto bersama.
- Sering terlihat di perpustakaan sambil membawa headphone dan buku.
- Meski tampak pendiam dan tertutup, Raras peka terhadap emosi orang lain dan mudah menyerap perasaan sekitar.
- Memiliki suami bernama Derta Atyasa Kartaga yang bekerja sebagai pilot pesawat domestik maupun mancanegara.